Kebiasaan Bocah Bekasi, Usai Magrib Ngaji Alquran ke Guru Kampung

infobekasi.co.id – Zaman memang sudah berubah, tapi tradisi baik musti terus dirawat dan dijaga. Salah satunya, kebiasaan bocah kampung di Bekasi. Selepas salat berjamaah di musala, mereka ngaji bareng, menghadap sang guru baca Alquran sampai bisa baca.

Sekitar tahun 90-an hingga masuk era milenium alias tahun 2000, masih terlihat bocah pada jalan kaki ke musala, pakai peci, kain disangkil di leher, alquran dikekepin ditangan. Mungkin kampung lainnya juga ada yang seperti ini.

Setelah magrib mereka ramai-ramai melantunkan ayat alquran. Setelah itu melancarkan bacaan, sebelum menghadap Guru. Saat itu sebelum adanya Iqro masih ada sistem juz Amma. Mengeja huruf-huruf Hijaiyah dengan sebuah kayu kecil ditunjuk satu-satu hurufnya. Ada juga yang melapalkan surat-surat pendek Al-quran.

Bagi yang sudah lama alias sudah bisa mengaji, mereka biasanya tetap menghadap guru. Baca alquran dari juz 1 hingga 30. Begitu seterusnya. Kadang jadi asisten Guru ngaji, ngajarin bocah belajar mengaji.

Tidak ada kata libur atau tuntas, mengaji selepas magrib sudah menjadi kebiasaan bocah kampung di Bekasi. Terus menerus, sampai bacaannya bagus, fasih dan siap terjun ke masyarakat mengamalkan ilmunya.

Saat itu, mereka getap alias rajin ke musala niat mengaji. Meski penerangan lampu masih minim, lewatin pohon bambu dan pohon yang terbilang angker. Tidak menyurutkan mental. Pantang pulang sebelum ngaji baca alquran.

Hampir tiap hari, suara lantunan alquran di tiap rumah terdengar sayup-sayup. Suara jangkrik mengiringi orang yang sedang baca alquran.

Ngaji Alquran selepas magrib memang sudah menjadi tradisi saat itu. Malu rasanya, jika rumah tidak ada yang mengaji alquran.

Di kampung Ujung Malang ada Guru Muhammad, di Kampung Kaliabang Pengarengan ada Guru Moh. Alwi, Guru Ubaidillah, Guru H. Madinah, Guru Jayani, Guru H. Marhusin, Guru muda yakni, ustad Ery Asyari, Guru Husni Mubarok, Guru Ahmad Taufik, Guru Rohmatulloh, di Kampung Rorotan ada Guru Tohir. Di kampung Rawa Silam ada Guru H. Ri’an.

Dan masih banyak lagi guru-guru ngaji yang tersebar di seantero Bekasi. Setiap kampung lainnya pasti ada guru ngaji yang bimbing bocah ngaji Alquran.

Sistem ngaji juga tidak pakai tarif mahal dan peraturan yang bikin ribed. Asal bocah mau datang, bawa alquran dari rumah. Mereka diterima menjadi murid.

Paling nanti saat khatam alquran, atau naik level bacaan. Murid biasanya bikin selamatan dengan bawa nasi ala kadarnya. Itu juga tanpa paksaan dari sang guru.

Ikhlas mengajar dan ikhlas menerima ilmu. Makanya, banyak yang jadi orang bermanfaat buat sekitar itu lulusan bocah ngaji zaman dulu. Minimal jadi ustad di kampung tersebut.

Andai ada murid yang bandel, minimal mereka punya ‘rem’ jika melakukan hal-hal tidak baik. Peribahasa orang kampung, sebandel-bandelnya anak zaman dulu bisa ngaji. Sejauh-jauhnya bocah ninggalin rumah pasti ingat salat dan ngaji.

(Dede Rosyadi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini