Infobekasi.co.id – Siapa sangka, di balik keramaian pusat pemerintahan Kota Bekasi, tersembunyi sebuah kampung perlahan menjelma menjadi jantung industri kreatif lokal, Kampung Duaratus. Nama yang mungkin terdengar asing, bahkan dianggap berada di sudut terpencil Bekasi, namun sejatinya justru berdiri tepat di tengah-tengah kota.
Kampung ini berada di RW 06 Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bekasi Selatan. Letaknya strategis, dikelilingi jalan-jalan besar seperti Jalan Ir. H. Juanda di utara, Jalan Pramuka/Veteran di timur, serta Kali Bekasi dan Jalan Hasibuan di selatan. Tak jauh dari situ, berdiri pula Kantor Pemkot Bekasi, menjadikan kawasan ini tak hanya padat aktivitas, tapi juga penuh sejarah.
Dari Bioskop ke Bilik Percetakan
Ketua RW 06, Baharudin, mengenang masa lalu kampung ini sebagai salah satu pusat hiburan Kota Bekasi pada era 1980–1990-an, pernah berjaya di zaman-nya.
“Dulu ada bioskop Parahyangan yang terkenal. Ada juga permainan bilyar dan hiburan lainnya, tempat orang Bekasi ngumpul,” kenang Bahrudin saat berbincang dengan jurnalis infobekasi. co. id, Rabu 25 Juni 2025.
Waktu bergerak cepat. Seiring menjamurnya pusat hiburan modern seperti mall dan pusat belanja besar di pinggiran kota, gemerlap Kampung Duaratus perlahan meredup dan sepi.
Bangunan tua bekas bioskop Parahyangan kini telah berubah wajah. Bilik-bilik kecil menggantikan deretan kursi bioskop, dipenuhi mesin cetak, gulungan spanduk, dan bunyi mesin digital. Kampung Duaratus pun menjelma menjadi sentra percetakan terbesar di Kota Bekasi.
“Usaha percetakan tersebar di RT 01, 02, 03, dan 06. Dari cetak kartu nama, spanduk, hingga skala besar seperti buku dan katalog,” ungkap Baharudin.
Kebersamaan Jadi Kunci
Di balik suksesnya perubahan wajah kampung ini, ada solidaritas warga yang saling menopang. H. Surahmat, pemilik Percetakan Jurnal, menyebut sistem kerja sama menjadi fondasi utama.
“Kalau ada order besar, biasanya satu percetakan mengerjakan inti, lalu percetakan lain ikut bantu untuk penjilidan, pembuatan tas, hingga cover buku,” tutur Surahmat.
Hal ini dibenarkan Cahyo Putro, pengusaha pembuat tas yang bermitra dengan percetakan. Menurutnya, sebagian besar pekerjaan datang dari rekanan, bukan perorangan.
“Kalau dari konsumen langsung ya jarang, paling sebulan dua kali,” jelasnya.
Terpeta di Dunia Digital
Menariknya, keberadaan Kampung Duaratus sebagai kampung percetakan sudah menembus ruang digital. Saat mengetik percetakan di Bekasi di aplikasi Google Maps, nama Kampung Duaratus langsung muncul di daftar teratas. Sebuah bukti bahwa geliat ekonomi lokal ini tak hanya hidup di dunia nyata, tapi juga eksis di era digital.
Kini, Kampung Duaratus menjadi contoh bagaimana sebuah wilayah bisa bangkit dengan identitas baru, tanpa kehilangan akar sejarahnya. Dari pusat hiburan menjadi sentra produksi, dari bioskop menjadi bengkel kreatif, Kampung Duaratus menegaskan satu hal, kota yang hidup adalah kota yang mampu beradaptasi.
Reporter: H. Saban
Editor : Deros
#PercetakanBekasi #BioskopParayangan #Infobekasi #KampungDuaRatus








































