Menag Ajak Ahli Ekonomi Islam Bersinergi Transformasi Pengelolaan Dana Umat

infobekasi.co.id – Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mengajak para pakar dan praktisi ekonomi syariah untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mengubah cara pengelolaan dana umat di Indonesia. Ia menekankan, Kementerian Agama butuh pandangan baru dan keahlian dari luar untuk membuat tata kelola ekonomi Islam lebih bisa dipercaya.

Hal itu disampaikan Nasaruddin saat berbicara pada acara Tasyakur Milad ke-22 Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Indonesia dan Silaturahmi Stakeholders Ekonomi Islam di Jakarta, Minggu (1/3/2026).

“Kami butuh masukan dan bantuan khusus dari para ahli di luar kementerian secara profesional, baik dari segi teori maupun praktik. Ini sangat penting, jadi mari kita berikan ide-ide strategis tentang hal ini,” ujar Nasaruddin di acara Tasyakur Milad ke-22 Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Indonesia dan Silaturahmi Stakeholders Ekonomi Islam, kemarin.

Salah satu hal urgen dibahas Menag adalah rencana pemerintah membentuk Lembaga Pengelola Dana Umat (LPDU). Ia ingin agar rencana dan ide konkret tentang LPDU ini bisa lebih dipercepat, terutama menjelang bulan Ramadan.

Masih kata Nasaruddin, setiap langkah untuk memperkuat ekonomi harus sesuai dengan hukum yang berlaku, terutama sesuai dengan UUD 1945 Pasal 33. Ia juga mengingatkan kembali prinsip ekonomi pada zaman Rasulullah SAW. Menurutnya, keamanan yang stabil adalah kunci utama pertumbuhan ekonomi.

“Ekonomi butuh rasa aman. Rasulullah sudah memberi contoh, perdagangan baru bisa berkembang kalau ada stabilitas, jadi gencatan senjata didahulukan. Saya juga ingatkan, jangan sampai kita merusak sumber daya seperti tanaman atau industri rakyat, bahkan di wilayah lawan. Inti ekonomi Islam adalah keberlanjutan tanpa riba dan tanpa menimbun barang,” paparnya.

Menurutnya, para pemikir ekonomi Islam agar tidak lupa pada jati dirinya. Ia mengingatkan agar tidak terjebak dalam pemikiran yang terlalu rasional dan bebas tanpa dasar agama yang kuat.

“Saya harap ide kita ini tidak terpisah dari ayat, hadis, dan kitab-kitab kuning sebagai dasar. Kita harus punya wawasan keislaman yang dalam agar tidak disebut liberal,” ucap Nasaruddin.

Nasaruddin mengimbau kepada masyarakat, agar lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di era digital. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kebenaran ucapan agar tidak terjadi salah paham.

“Di zaman sekarang, kita semua lebih hati-hati dalam berbicara dan bertindak. Jangan sampai ada perbedaan antara apa yang kita maksud dan apa yang diterima oleh masyarakat. Dunia digital ini sangat cepat, jadi jagalah lisan kita agar tidak terjadi kesalahan informasi yang merugikan umat,” tandasnya.

Editor : Dede R

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini