Infobekasi.co.id – Sepak bola tarkam alias antar kampung tetap punya tempat istimewa di hati masyarakat Bekasi. Tarkam bukan sekadar pertandingan bola, tapi hiburan rakyat, ajang silaturahmi, sekaligus adu gengsi antar kampung.
Biasanya, laga tarkam digelar di lapangan sederhana, kadang rumputnya tak rata, kadang malah sudah jadi setengah sawah. Penontonnya? Jangan salah, bisa lebih ramai daripada pertandingan profesional. Warga datang berbondong-bondong, ada yang duduk di pinggir lapangan, ada yang memanjat pohon, bahkan berdiri di atap rumah demi bisa melihat tim kebanggaan mereka berlaga.
Yang unik, tarkam kerap mempertemukan pemain amatir dengan bintang tamu dari klub profesional. Banyak pemain liga yang diam-diam turun ke tarkam demi tambahan pemasukan. Mereka disebut ‘pemain topeng’, karena kadang pakai nama samaran agar tak ketahuan klubnya.
Sorotan tarkam bukan hanya pada teknik di lapangan, tapi juga atmosfernya. Di sisi lapangan, tukang bakso, tukang es, hingga pedagang kopi laris manis. Komentator lapangan kadang lebih lucu dari stand up comedian. Suaranya kencang, komentarnya nyelekit.
Di balik kelucuan dan semangatnya, sepak bola tarkam juga menyimpan potensi. Banyak bakat muda yang lahir dari lapangan kampung, lalu naik ke tingkat profesional. Tarkam jadi jalan awal banyak pemain untuk menapaki karier lebih tinggi.
Namun, ada juga sisi gelap yang perlu dibenahi, konflik antar penonton, taruhan liar, hingga kurangnya pengamanan. Jika dikelola lebih baik, sepak bola tarkam bisa menjadi kekuatan akar rumput yang sehat bagi ekosistem bola nasional.
Tarkam bukan cuma soal menang-kalah, tapi tentang semangat, kebersamaan, dan hiburan. Di sanalah sepak bola kembali ke akarnya, dekat dengan rakyat, penuh gairah, dan tak pernah kehilangan ‘nyawa’
Kontributor : R. Surendro
Editor : D. Rosyadi





























