infobekasi.co.id – Kehadiran underpass di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, ternyata belum sepenuhnya menjadi jawaban solusi permasalahan transportasi di wilayah tersebut. Pasalnya, kondisi kemacetan di jalur utama tersebut dinilai tak jauh berbeda dibandingkan saat kawasan itu masih menggunakan sistem palang pintu perlintasan kereta api.
Kemacetan pada jam-jam sibuk saat pagi dan sore hari nyatanya masih menjadi pemandangan yang sulit dihindari, meski infrastruktur telah dibangun dan diubah.
Menengok ke belakang, pada rentang tahun 2012 hingga awal 2017, simpul kemacetan terbesar terjadi tepat di perlintasan Kereta Api (KA) Tambun. Setiap pagi, arus kendaraan dari arah utara dan selatan harus terhenti setiap kali palang pintu ditutup. Belum lagi, ditambah dengan ulah sejumlah pengemudi angkutan umum yang berhenti menaik-turunkan penumpang sembarangan.
Kondisi macet biasanya terjadi dalam rentang waktu pukul 06.00 hingga 09.00 WIB dan sore hari saat masyarakat pulang kerja. Saat itu, warga yang tinggal di kawasan perumahan sekitar memiliki dua opsi transportasi; sebagian memanfaatkan tiga rangkaian Kereta Rel Diesel (KRD) dari Stasiun Tambun menuju Jakarta, sementara sisanya menggunakan kendaraan pribadi yang harus berebut melintas di perlintasan sebidang tersebut.
Situasi ini kian diperparah dengan minimnya kedisiplinan pengemudi angkutan umum. Saat itu, tercatat puluhan unit angkutan kota beroperasi dengan tiga trayek utama, yakni K 16 Bekasi-Tambelang (yang kemudian diperpendek menjadi Tambun-Tambelang), K.16A Bekasi-Papan Mas, serta K.16B Bekasi-Graha Prima.
Ironisnya, banyak sopir angkot yang masih di bawah umur seringkali mengabaikan aturan lalu lintas. Kebiasaan berhenti sembarangan ini tidak hanya membuat arus kendaraan tersendat hingga sejauh 1 kilometer ke arah utara, tetapi juga memicu tingginya angka kecelakaan.
Berdasarkan catatan yang dihimpun, dalam kurun waktu tersebut, tercatat tiga kali peristiwa kecelakaan, kereta api bertabrakan dengan pengguna jalan, baik pengendara sepeda motor maupun angkutan kota, yang menelan korban jiwa.
Berangkat dari keresahan tersebut, warga pun menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk mencari solusi, hingga akhirnya pembangunan jalan layang atau underpass digadang-gadang sebagai “obat” tuntas bagi masalah yang berkepanjangan itu.
Namun kini, meski infrastruktur tersebut telah rampung beroperasi, kemacetan pada jam yang sama masih saja menjadi langganan warga. Berbagai faktor diduga menjadi pemicunya, yang saat ini sedang ditelaah dan dikaji lebih mendalam oleh pihak Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Tambun Selatan.
(H.Saban Jr)
Editor: D. Rosyadi





























