Infobekasi.co.id – Senin pagi, 28 Juli 2025, mentari belum sepenuhnya menyapa bumi ketika kabar duka itu datang. Warta Kusumah, maestro lini belakang Tim Nasional Indonesia di era kejayaan sepak bola Tanah Air, telah berpulang. Berita itu menyentak, bukan hanya bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga bagi jutaan penggemar sepak bola Indonesia yang mengenang jasanya.
Di RSUD dr. Chasbullah Abdumadjid Kota Bekasi, pukul 03.00 WIB, napas terakhirnya terhembus, meninggalkan kesunyian yang mendalam.
“Jam tiga pagi meninggal di RSU Kota Bekasi,” ujar Kamal, sahabat karibnya yang juga turut membesarkan Persipasi Kota Bekasi, suaranya bergetar menahan kesedihan saat dihubungi di rumah duka.
Lahir di Jakarta, 26 Oktober 1963, Warta Kusumah bukan sekadar nama dalam daftar pemain Timnas. Ia adalah sosok yang menorehkan sejarah. Bayangan-nya yang gagah di lapangan hijau, teguh menjaga lini pertahanan Tim Garuda di era 1990-an, masih terpatri jelas dalam ingatan.
Siapa yang bisa melupakan kontribusinya dalam membawa Timnas menjuarai Subgrup IIIB Asia Timur, mengalahkan Thailand, India, dan Bangladesh?. Meskipun langkah Timnas terhenti di final Grup III setelah dikalahkan Korea Selatan, perjuangannya tak pernah pudar.
Ia adalah bagian dari generasi emas yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, termasuk perjuangannya di Pra-Piala Dunia 1986. Julukan Maestro Lini Belakang Timnas, bukan sekadar gelar, tetapi cerminan dari dedikasi dan kemampuannya yang luar biasa.
Setelah pensiun, cedera kaki akibat diabetes tak mampu meredupkan semangat juangnya. Ia tetap berkontribusi bagi sepak bola Indonesia, kali ini sebagai pelatih.
Di berbagai klub, ia dikenal dengan strateginya yang disiplin, menyeimbangkan serangan dan pertahanan dengan apik. Strategi tersebut terbukti ampuh, diakui oleh lawan dan menghasilkan prestasi bagi tim yang ia latih.
Terakhir, Warta Kusumah mendedikasikan dirinya untuk Persipasi Bekasi. Kenangan terakhir bersama almarhum, saat bertemu di Solo dalam ajang Liga 3, masih terngiang jelas.
Kondisi kesehatannya memang mengkhawatirkan, luka di kakinya tak kunjung sembuh. Namun, senyum dan kelakarnya tetap menghiasi wajahnya.
“Sekarang mah apa aja saya makan, asal jangan gula,” ucap Warta Kusumah kala itu, sebuah canda yang kini menjadi kenangan.
Kepergian Warta Kusumah meninggalkan duka mendalam. Ia bukan hanya seorang legenda sepak bola, tetapi juga seorang sahabat, seorang pelatih yang menginspirasi, dan seorang manusia yang penuh semangat juang.
Kisah hidupnya, dari lapangan hijau hingga bangku pelatih, merupakan inspirasi bagi generasi penerus. Ia telah pergi, tetapi namanya akan tetap abadi dalam sejarah sepak bola Indonesia, sebuah warisan yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Selamat jalan, Maestro. Doa dan kenangan akan selalu menyertai.
Penulis: H. Saban jr
Editor: Deros Rosyadi
#WartaKusumah #infobekasi #SepakBola






























