Infobekasi.co.id – Kampung Rawalumbu, kawasan permukiman padat di Kota Bekasi yang kini dikenal luas, menyimpan jejak sejarah yang erat kaitannya dengan kondisi alam masa lalu. Nama Rawalumbu bukan sekadar sebutan administratif, melainkan bukti hubungan mendalam antara manusia dan lingkungan yang pernah membentuk wilayah ini.
Sejarawan sekaligus Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bekasi, Ali Anwar, menjelaskan, nama Rawalumbu berasal dari kata rawa dan lumbu, di mana lumbu dalam tradisi masyarakat Bekasi merujuk pada tanaman talas.
“Nama Rawalumbu bukan soal mistis atau makhluk halus. Artinya, dulu ini kawasan rawa yang banyak ditumbuhi tanaman lumbu,” ungkap Ali Anwar saat berbincang di Jalan Kartini, Kota Bekasi, Selasa (30/12).
Menurutnya, penamaan wilayah berbasis alam merupakan tradisi lama masyarakat Betawi-Bekasi yang berfungsi sebagai penanda ruang hidup dan identitas lokal. Meskipun tidak tercantum secara eksplisit dalam peta kolonial Belanda akhir 1930-an, keberadaan Rawalumbu dapat ditelusuri melalui lokasinya di kawasan hulu Rawa Panjang, sebelah barat Kali Bekasi.
“Dulu ini merupakan daerah resapan air yang luas sebelum berubah menjadi kawasan permukiman,” jelasnya.
Ali juga menegaskan, persoalan Rawalumbu saat ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan fungsi lahan di masa lalu. “Masalahnya bukan cuma banjir, tapi kesalahan tata ruang. Rawa yang harusnya jadi resapan justru diuruk. Nama kampung ini perlu dipertahankan sebagai bagian dari identitas sejarah masyarakat,” tegasnya.
Perubahan Rawalumbu dari kawasan rawa menjadi permukiman padat disaksikan langsung oleh warga asli yang lahir dan besar di sana. Isbinarsih (69), pedagang sekaligus warga asli Rawalimbu, menuturkan, dulu kondisi kampungnya masih sepi, belum banyak permukiman penduduk.
“Saya lahir sudah di sini. Dulu sepi banget, rumah cuma beberapa dan jaraknya jauh-jauh. Baru rame ketika pembangunan perumahan Prumnas mulai masuk, dari situ orang mulai sering nyebut Rawalumbu,” kenang Isbinarsih.
Ia menyebut, bahwa dampak pembangunan baru benar-benar terasa beberapa tahun terakhir, dengan banjir besar pertama yang dialaminya pada tahun 2020, di mana air mencapai tinggi sepinggang.
Sementara itu, Bule (75), warga setempat, saat ditemui di Pasar Rawalumbu, mengungkapkan, wilayah tersebut dahulu dikenal sebagai Sawah Kodok. “Sekarang orang hanya nyebut Rawalumbu saja. Wilayahnya makin padat, dan tahun 2020 banjir parah hingga sembako warga kebanjiran,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Rini Puji Setyaningsih (50), warga Rawalumbu sekaligus penggiat Bank Sampah, menilai perubahan kawasan berpengaruh besar terhadap kondisi lingkungan. Menurutnya, nama Rawalumbu sering disalahartikan oleh sebagian orang, mulai dari anggapan lumbu sebagai setan hingga lembu, padahal intinya adalah rawa.
“Banjir mulai sering terjadi setelah pembangunan makin masif dan daerah resapan air menyusut. Mulai terasa setelah 2015, dengan yang paling parah pada 2020,” jelasnya.
Kini, kata Rini, warga mulai membangun kesadaran lingkungan melalui kegiatan Bank Sampah di setiap RW. “Belum sempurna, tapi sudah ada gerakan yang tumbuh,” ujarnya.
Meski rawa dan tanaman lumbu kini nyaris tak ditemukan lagi, nama Rawalumbu di Bekasi tetap bertahan di tengah padatnya pembangunan, hidup melalui ingatan dan cerita warga yang tumbuh bersama perubahan kampung tersebut.
(Mutiara Mentary)
Editor : Dede Rosyadi






























