infobekasi.co.id – Kebiasaan zaman dulu, orang di kampung-kampung, terutama masyarakat Betawi jelang bulan Ramadan, patungan mengumpulkan uang untuk (nanding daging) membeli kerbau buat disantap saat hari raya lebaran.
Hasil patungan tersebut digunakan untuk membeli kerbau. Jumlah kerbau tergantung pada banyaknya warga yang ikut nanding (berpatungan). Satu kampung bahkan bisa membeli empat ekor kerbau, paling sedikit satu ekor.
Sebelum dipotong atau disembelih, kerbau-kerbau ini dirawat dan dijaga oleh bocah tikang angon, yang dipercaya mengurus hewan bertubuh besar ini. Mereka biasanya mengembal kerbau di lahan terbuka dekat kampung, bahkan di perumahan yang masih ada lahan rerumputan.
Kadang ada kebiasaan ngadu (bersaing atau memamerkan) kerbau patungan antar kampung, seperti Kampung Kaliabang, Pocol, Rawa Silam, Rorotan, dan Ujungmalang, Tarumajaya dan lainnya. Ini adalah momen yang paling dinantikan para bocah, nonton adu kerbau.
Menjelang dua hari (H-2) sebelum Lebaran Idul Fitri, kerbau disembelih. Biasanya warga setempat gotong royong beramai-ramai datang, membawa berbagai peralatan, mulai dari pisau, golok, kapak untuk memotong daging dan tulang kerbau, setelah itu membagi-bagi daging sesuai tandingan, dan menyerahkannya kepada warga yang ikut berpatungan.
Aroma daging semur kerbau yang sudah mulai menyebar di setiap rumah penduduk. Saat itu hampir semua makan pakai lauk daging semur kerbau yang dikecapin, lawannya ketupat dan pesor.
Kini, dengan semakin banyaknya gedung bertingkat dan jalan raya , tradisi patungan daging kerbau sudah langka alias jarang ditemui di perkampungan Bekasi. Kampung-kampung lama mulai berubah wajah. Namun, kenangan suasana kebersamaan warga saat patungan daging kerbau masih terkenang di ingatan mereka yang lahir di era 1980 hingga 1990-an.
Nah, di tempat kalian apa masih ada tradisi patungan daging kerbau?
#Infobekasi.co.id #Kerbau #DagingKerbau
Editor: Dede Rosyadi







































