Infobekasi.co.id – Semangat dan kepercayaan diri terpancar jelas dari wajah para siswa berkebutuhan khusus yang tampil di ajang Lomba Kompetensi Siswa Pendidikan (LKSP) 2026. Sebanyak 23 siswa terbaik mewakili 12 Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Kota Bekasi berkumpul di SLB Negeri Bekasi Jaya, Senin (11/5/2026), untuk membuktikan, keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi dan berkarya.
Di tengah deretan meja dan alat kerja, para peserta tampak serius dan fokus mengerjakan apa yang menjadi keahlian mereka. Mulai dari meracik adonan di dapur, mengukir kayu, membatik, merangkai bunga, hingga merias wajah dan keterampilan pijat, sembilan kategori lomba digelar untuk menampung bakat dan kreativitas mereka.
Para peserta berkompetisi ini memiliki beragam kondisi, mulai dari tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, hingga spektrum autisme. Meski berbeda karakter dan cara berkomunikasi, satu hal yang sama: keinginan kuat untuk menunjukkan kemandirian dan hasil karya terbaik mereka.
Ketua Panitia LKSP 2026 Kota Bekasi, Erika Diin, mengungkapkan, ajang ini bukan sekadar lomba, melainkan wadah untuk mengangkat potensi tersembunyi para siswa.
“Tujuannya jelas, kami ingin meningkatkan kreativitas dan kemandirian anak-anak ini. Mereka sebenarnya punya bakat luar biasa, dan tugas kami adalah menonjolkan kemampuan itu. Momen seperti ini menjadi kebanggaan besar bagi mereka, karena bisa menunjukkan bahwa mereka mampu dan bisa berkarya,” ujar Erika Diin dengan antusias saat ditemui di lokasi.
LKSP menjadi agenda rutin tahunan menjadi jalan karier dan prestasi bagi siswa pendidikan khusus. Pemenang juara 1, 2, dan 3 di tingkat kota nantinya akan maju ke kancah provinsi, bahkan berpeluang mengharumkan nama daerah di tingkat nasional. Di setiap ruang lomba, guru pendamping selalu setia mendampingi, memandu, dan memberi semangat agar siswa merasa nyaman dan percaya diri.
Menjadi pengajar bagi anak berkebutuhan khusus, menurut Erika, adalah panggilan hati yang mulia namun penuh tantangan. Kesabaran tingkat tinggi adalah bekal utama yang harus dimiliki setiap tenaga pendidik di SLB.
“Tantangan utamanya ada pada kesabaran ekstra. Kami harus peka melihat suasana hati atau mood anak-anak. Cara pendekatannya pun harus berbeda-beda sesuai karakter masing-masing. Di sinilah letak seni mengajar di SLB: kita dilatih untuk selalu sabar, mengerti, dan merespons segala kondisi dengan hati-hati,” jelasnya.
Melihat potensi besar yang dimiliki siswa, Erika berharap pemerintah, mulai dari tingkat daerah, provinsi, hingga pusat, dapat lebih memperhatikan kebutuhan sarana dan prasarana penunjang pendidikan mereka. Dukungan dan bantuan fasilitas dinilai sangat penting agar kualitas pembelajaran semakin maksimal.
“Harapan kami, kegiatan seperti ini bisa terus berlangsung setiap tahun. Syukurlah jika pemerintah bisa memberikan bantuan dukungan, baik fasilitas maupun dana. Ini bukan hanya soal lomba, tapi soal mencerdaskan kehidupan bangsa dan memastikan anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan perhatian yang layak demi masa depan mereka,” pungkasnya.
(Fahmi)
Editor : DR






























