Libur Sekolah, Tempat Khitan Legend di Bulak Temu Dibanjiri Pasien

Infobekasi.co.id – Kampung Bulak Temu, tepatnya di RT 002/03 Desa Sukabudi, Kecamatan Sukawangi (pemekaran Kecamatan Tambelang), setiap akhir tahun bak pasar kaget.

Keramaian akan terlihat pada pukul 03:00 dinihari hingga sore hari,“Musim liburan ini jam tiga pagi aja udah rame. Parkiran sampe kantor desa,” ujar Nyono, petugas keamanan di sana.

Mobil Minibus, Baktor dan bahkan Pikup berpenumpang tumpah ruah di sana. Mereka adalah pengantar pasien khitan di Saung Sunat H Amung. “Mumpung liburan sekolah dan anaknya mau jadi di bawa ke sini,” kata Fitrah Abdul Malik, orang tua Ananda Azayn Javadd Malik, 8, warga Perumahan Villa Mas Garden, Perwira, Bekasi Utara.

Menurutnya ‘keampuhan’ H Amung, yang nama aslinya H Muhtan, 60 ini, bisa diandalkan terutama kalau ada anak yang saat mobil parkir tiba-tiba ngambek dan takut disunat,

“Sekali elus kepalanya, si bocah langsung nurut,” kata Fitrah.
Lain halnya dengan Sudarsono, warga Klender, Jakarta Timur, dia sengaja membawa keponakannya karena tahu dari tetangganya, “Katanya kalau sunat di sini, nggak bakalan anak nangis dan cepet sembuh,” tandasnya.

Menurut Nyono, praktik sunat Kampung Bulak Temu, sebelum ramai seperti sekarang ini dilakukan secara panggilan, “Dulu tahun 1994, H Amung selalu menerima panggilan khitan saat libur sekolah,” tutur Nyono, sambil mengatakan H Amung mendatangi pasien yang ada kampung- kampung sekitar rumahnya.

Namun selain dipanggil ada juga yang datang ke rumahnya, “Ternyata banyak yang datang ke rumah. Jadi panggilan dihentikan, kecuali kalau ada yang darurat,” kata Nyono, yang mengaku saat itu tarifnya berkisar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu.

Nama Kampung Bulak Temu, sekarang dikenal sebagai tempat sunat, dimusim libur sekolah setiap hari rata-rata ada sekitar 100 sampai 120 anak yang dikhitan.

“Nggak ada perjanjian. Kalau mau sunat langsung datang ke sini, “ kata Irfan, pegawai di sana. Menurutnya siapa yang datang lebih awal itu yang dilayani lebih dulu.

Karenanya rombongan pengantar sudah memenuhi beberapa halaman parkir yang disediakan remaja di sana selalu penuh pada pukul 03:00, “Jam tiga ada yang datang dilayani, kemudian istrirahat pada saat salat subuh dan lanjut lagi hingga selesai.

Namun bagi anak yang obesitas dengan berat badan tertentu memang harus konsultasi dulu, karena khawatir ada kendala saat dikhitan, “Yang badannya gemuk emang biasanya harus konsultasi dulu,” ujar Nyono.

Sementara H Amung menuturkan dirinya tidak punya ilmu apa-apa, “Hanya percaya diri dan sayang kepada anak yang mau dikhitan. Kalau kita baekin masa dia nolak,” katanya sambil senyum.

Saat ini tarif sekali khitan, menurut Firtrah, mencapai Rp 750 ribu,”Dulu kakaknya hanya Rp 350 ribu, maklum sekarang semua pada naek,” kata Fitrah, yang berencana membawa anak ketiganya nanti ke H Amung untuk khitan. (saban)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini