infobekasi.co.id – Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum K.H. Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur, dalam upacara peringatan Hari Pahlawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/35).
Penganugerahan ini menjadi momen bersejarah dan penuh haru bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) serta masyarakat Indonesia yang mengenang jasa besar Gus Dur sebagai tokoh pluralisme, demokrasi, dan kemanusiaan.
Gus Dur, Ulama yang Menyatukan Keberagaman
Lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940, Abdurrahman Wahid merupakan putra dari K.H. Wahid Hasyim, Menteri Agama pertama Republik Indonesia, dan cucu dari K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Didikan pesantren sejak kecil serta pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar, Mesir dan Universitas Baghdad membentuk Gus Dur sebagai pemikir Islam progresif yang menempatkan kemanusiaan di atas sekat-sekat golongan.
Sosoknya dikenal luas sebagai ulama yang humoris, pembela minoritas, sekaligus presiden yang dekat dengan rakyat. Dalam kepemimpinannya sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia (1999-2001), Gus Dur banyak melahirkan kebijakan penting yang memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan toleransi.
Kebijakan yang Menjadi Legenda
Salah satu langkah monumental Gus Dur adalah mencabut Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967, yang melarang masyarakat Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek secara terbuka. Melalui kebijakannya, perayaan Imlek kembali diakui sebagai hari besar nasional, simbol keterbukaan dan penghormatan terhadap keberagaman etnis di Indonesia.
Tak hanya itu, Gus Dur juga dikenal memperjuangkan hak-hak kelompok agama minoritas, membuka ruang kebebasan pers, dan menegaskan pentingnya demokrasi serta reformasi di tengah masa transisi pasca-Orde Baru. Karena sikapnya yang tegas namun penuh welas asih, Gus Dur kerap dijuluki “Bapak Pluralisme Indonesia.”
Penghormatan dan Penganugerahan Gelar
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Gus Dur dilakukan bersamaan dengan sembilan tokoh lain yang dinilai berjasa besar bagi bangsa. Upacara di Istana Negara dihadiri oleh keluarga besar Gus Dur, termasuk Sinta Nuriyah Wahid dan Yenny Wahid, serta sejumlah tokoh NU seperti Gus Yahya Cholil Staquf dan Gus Ipul. Usai upacara, keluarga Gus Dur tampak haru.
“Ini bukan hanya penghormatan kepada Gus Dur, tapi juga kepada nilai-nilai yang beliau perjuangkan: kemanusiaan, kebebasan, dan cinta kasih,” tutur Yenny Wahid kepada wartawan.
Presiden Prabowo dalam sambutannya menegaskan, gelar ini adalah bentuk pengakuan negara atas jasa Gus Dur yang menegakkan keadilan sosial dan memperjuangkan kesetaraan di tengah keberagaman bangsa.
“Beliau (Gusdur) adalah simbol persatuan di tengah perbedaan,” kata Presiden Prabowo.
Warisan Pemikiran yang Tak Pernah Padam
Meski telah wafat pada 30 Desember 2009, warisan Gus Dur tetap hidup melalui Wahid Foundation dan Jaringan Gusdurian, yang meneruskan perjuangan dalam bidang toleransi, dialog antaragama, dan kemanusiaan.
Di berbagai daerah, pesan-pesan Gus Dur tentang “Tidak penting apa agamamu, yang penting kamu berbuat baik” masih menjadi pegangan moral banyak orang.
Tak hanya di ranah agama, pengaruh Gus Dur juga terasa di dunia politik dan sosial, karena ia mengajarkan bahwa demokrasi sejati harus dibangun di atas kasih sayang, bukan kebencian.
Pengakuan yang Sudah Lama Dinantikan
Sebenarnya, usulan agar Gus Dur diberi gelar Pahlawan Nasional sudah bergulir sejak beberapa tahun setelah wafatnya. Namun, baru pada tahun 2025, pemerintah secara resmi mengabulkannya setelah melalui pertimbangan panjang.
Ketua MPR RI dan berbagai organisasi Islam, termasuk NU dan PKB, telah berulang kali mengajukan nama Gus Dur dalam daftar calon pahlawan nasional. Kini, penantian itu terbayar lunas.
Dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional, perjuangan Gus Dur yang terkenal dengan ucap, “Gitu ajah Ko Repot” menemukan bentuk penghargaan tertingginya. Bukan hanya sebagai presiden, melainkan sebagai sosok menyalakan obor kemanusiaan bagi bangsa Indonesia. Dalam ingatan rakyat, Gus Dur bukan hanya pemimpin, melainkan simbol cinta, keberanian, dan kebebasan berpikir.
Editor : Dede Rosyadi
#Gusdur #Infobekasi #PahlawanNasional #Bekasi #KH.AbdurrahmanWahid





























