Dangdut Kian Digandrungi, Menembus Batas Kelas Sosial

infobekasi.co.id – Musik dangdut yang dulu kerap dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai hiburan kelas bawah, kini menjelma menjadi salah satu genre digemari lintas generasi dan sosial di berbagai wilayah, termasuk di Bekasi. Dari panggung hajatan kampung hingga konser megah, irama gendang khas dangdut menggema dan menyatukan penikmat musik dari berbagai latar belakang profesi.

“Nonton dangdut dulu bos,” ujar A. Wirasesa, pria yang sehari-hari berporfesi sebagai CEO di salah satu perusahaan di Bekasi, saat kondangan di salah satu rumah warga, Sabtu (31/1).

Pada era 1970-1980-an, dangdut sering dilekatkan dengan stigma musik rakyat kecil. Lirik sederhana, panggung seadanya, serta penonton dari kalangan pekerja serabutan membuat genre ini kerap diabaikan oleh industri musik arus utama.

Namun waktu membuktikan sebaliknya. Dangdut justru bertahan dan berkembang menjadi kekuatan budaya populer.
Transformasi besar terjadi ketika dangdut mulai berkolaborasi dengan berbagai genre lain seperti pop, rock, hingga elektronik.

Munculnya subgenre seperti dangdut koplo, remix, dan pop-dut membuat musik ini semakin akrab di telinga generasi muda. Lagu-lagu dangdut kini rutin menempati tangga lagu digital dan viral di media sosial.

Tak hanya itu, penyanyi dangdut modern tampil dengan konsep panggung profesional, tata cahaya megah, dan aransemen musik yang lebih dinamis. Acara-acara televisi nasional pun menjadikan dangdut sebagai konten utama hiburan, memperkuat posisinya sebagai musik rakyat yang merakyat sekaligus komersial.

Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai konser terbuka di daerah hingga festival musik besar. Penontonnya bukan lagi didominasi satu kelompok tertentu, melainkan bercampur, anak muda, orang tua, pekerja kantoran, hingga tokoh masyarakat turut berjoget bersama mengikuti irama kendang.

Joni Ridwan, penikmat musik dangdut dari kampung Ujungharapan, Bekasi, menilai, dangdut memiliki kekuatan unik. Lirik yang dekat dengan realitas kehidupan serta ritme yang mudah diterima siapa saja. Hal inilah yang membuat dangdut terus relevan meski zaman berubah.

“Syair-nya ‘kena banget’ di hati, sesuai dengan realitas kehidupan sehari-hari, terutama lagu dangdut era 1980 hingga 1990-an,” tutur Joni yang mengaku mengidolakan lagu-lagu dangdut Rhoma Irama, Elvi Sukaesih dan Rita Sugiarto.

Kini, dangdut bukan sekadar hiburan kampung, melainkan telah menjadi identitas musik nasional yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Dari yang dulu dipinggirkan, dangdut justru berdiri di garis depan industri hiburan Tanah Air, bukti bahwa musik rakyat memiliki daya hidup yang luar biasa.

#Dangdut #Infobekasi #Musik #Hiburan #Bekasi

Editor: Dede R

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini