Infobekasi.co.id – Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menanggapi fenomena cuaca ekstrem berupa hujan es disertai angin kencang di sejumlah wilayah Kota Bekasi pada Minggu (12/4/2026) sore. Cuaca tidak biasa ini terjadi di kawasan Rawalumbu, Mustikajaya, hingga Bantargebang bersamaan dengan turunnya hujan deras serta sambaran petir.
Kejadian ini sempat mengejutkan warga, lantaran butiran-butiran es turun mengiringi curah hujan yang lebat. Belum lagi, hembusan angin kencang menyebabkan pohon tumbang hingga gangguan aktivitas warga di sejumlah titik.
Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, fenomena ini merupakan bagian dari dinamika cuaca ekstrem yang umum terjadi pada masa peralihan musim atau pancaroba.
Berdasarkan penjelasan BMKG, hujan es terjadi akibat pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB), yakni awan badai berkembang secara vertikal hingga mencapai lapisan atmosfer yang tinggi. Pada kondisi tertentu, suhu di puncak awan tersebut bisa mencapai di bawah minus 60 derajat Celcius, yang menyebabkan butiran air di dalamnya membeku menjadi butiran es sebelum akhirnya jatuh ke permukaan bumi.
Selain itu, kondisi atmosfer di wilayah Jawa Barat saat kejadian terpantau memiliki tingkat kelembapan yang tinggi. Kondisi ini dinilai mempercepat proses pembentukan awan sekaligus meningkatkan intensitas curah hujan yang turun.
Faktor pemicu lainnya adalah pemanasan kuat yang terjadi pada siang hari. Suhu panas di permukaan bumi menyebabkan udara naik secara konvektif, yang kemudian berkembang menjadi awan hujan pada sore hingga malam hari.
BMKG juga mencatat adanya fenomena konvergensi atau pertemuan massa angin serta perubahan arah angin di wilayah tersebut. Kondisi ini turut memperkuat proses pengangkatan massa udara ke atmosfer sehingga pertumbuhan awan badai menjadi lebih cepat.
Sementara itu, angin kencang yang terjadi bersamaan dengan hujan es disebabkan oleh fenomena downdraft, yaitu aliran udara dingin yang turun dari dalam awan Cumulonimbus menuju permukaan tanah. Perbedaan tekanan udara yang signifikan membuat hembusan angin yang dihasilkan menjadi lebih kuat.
Secara lebih luas, dinamika atmosfer saat itu juga dipengaruhi oleh aktivitas gelombang Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby khatulistiwa yang meningkatkan ketidakstabilan cuaca di wilayah Indonesia.
Menyikapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa pancaroba. Hujan lebat yang disertai petir, angin kencang, hingga hujan es masih berpotensi terjadi secara tiba-tiba, terutama pada rentang waktu siang hingga sore hari.
Editor:Deros





























