infobekasi.co.id – Becak pernah menjadi moda transportasi ikonik Indonesia era tahun 1960 hingga 1980-an, termasuk di wilayah Bekasi.
Transportasi darat roda tiga tanpa mesin ini bergerak dengan cara digowes alias dikayuh sama seperti halnya sepeda.
Di sudut pinggir jalan raya Kartini, Agus Salim, Teluk Angsan, Kota Bekasi terlihat pria tua duduk di jok becak miliknya yang sudah ‘berumur’.
Ia bernama Nur Ali, pengemudi becak dari era Presiden Soeharto. Seinget Dia, becak yang dibelinya waktu itu seharga 1,5 juta rupiah, masih gres alias baru dan lengkap ada surat-suratnya.
“Beli becak zamannya Pak Soeharto masih jadi presiden. Surat-suratnya juga dulu saya simpan. Satu lembar gede kayak selembar buku. Kalau sekarang disebut mirip STNK kali ya. Tapi kebintal (hilang), enggak tau kemana itu surat becak,” ujar Mat Nur sapaan akrab Nur Ali saat berbincang dengan jurnalis infobekasi, Selasa (22/08/23) malam.
Zaman kejayaan becak di Bekasi, Mat Nur pernah mengalami saat sebelum kerusuhan tahun 1998, penarik becak masih banyak orderan penumpang di sekitar pasar proyek Bekasi.
“Narik becak dari zaman presiden Soeharto, sampai sekarang. Pasar proyek Bekasi masih belum ramai motor dan mobil, saya udah mangkal di sekitar situ,” jelasnya.
Ia masih ingat, saat mangkal di sekitar pasar proyek sekitar tahun 80-an. Saat itu, tiap hari bisa mengangkut pelanggan becak. Masih bisa buat menafkahi anak isteri, buat kehidupan sehari-hari.
“Zaman itu masih rame, orang nunggang becak. Sekali tarikan bisa dapat ceng go (1500 rupiah) hingga 3000 rupiah, bisa buat beli beras. Waktu itu kan apa-apa masih murah, enggak kayak sekarang serba mahal” kenang pria asal kelahiran Sukatani Kabupaten Bekasi ini.
Dengan modal menarik becak, dirinya bisa membiayai sekolah anak sulungnya hingga lulus SMA. Dan sesekali bisa membeli perabotan rumah tangga.
“Zamannya becak masih rame, orang pada naek becak kita enggak khawatir pendaringan kosong. Nyari duit masih gampang waktu itu,” tutur lelaki berusia 52 tahun ini.
Kini moda transportasi becak tersisihkan dengan perkembangan zaman, dan menjamurnya moda transportasi motor dan mobil.
Meski demikian, Mat Nur tetap semangat mengayuh becak tuanya hingga larut malam demi sang istri dan empat anaknya di rumah.
“Sekarang mah narik apa ajah. Narik bambu ayo, narik kuin bangunan ayo, narik perabotan orang pindahan rumah juga ayo,” semangat lelaki berkulit sawo matang dan berambut gondrong tersebut.
Mat Nur menganggap becak miliknya sudah seperti soulmate. Tiap hari selalu dikayuh dan masih bisa diandalkan untuk menghasilkan uang.
“Pokoknya selagi saya masih kuat narik becak, saya tetap kerja. Apalagi becak ini punya sejarah bagi hidup saya,” pungkasnya.
(Deros D.Rosyadi)








































