Infobekasi.co.id – Di malam Jumat setelah salat Isya, suasana di kampung Kaliabang Tengah, Bekasi Utara, para pria mengenakan sarung, baju koko, dan kopiah berjalan dengan langkah tenang menuju rumah salah satu warga. Di dalam ruangan yang sederhana, tikar sudah disebarkan rapi, tempat mereka akan duduk bersila, memegang tasbih, dan menyimak bacaan ayat suci.
Ini bukan sekadar rutinitas bulanan atau mingguan. Ngaji Malam Jumat adalah tradisi yang telah menancap akar sejak zaman Kyai Noer Ali, awalnya tumbuh di wilayah Jumalang (sekarang dikenal sebagai Ujung Harapan) sebelum menyebar ke berbagai daerah di Bekasi yang ditularkan oleh murid-muridnya.
Menurut Basri, salah satu jemaah yang rutin hadir setiap pekan, pengajian ini adalah warisan langsung dari leluhur. “Pengajian ini memang sudah ada sejak zaman Kyai Nur Ali. Guru-guru di kampung yang belajar ngaji di Jumalang membawa tradisi ini, membaca Surat Yasin, Tahlil Tahmid (zikrullah) dan Ratibul Haddad, kemudian guru tua akan memberikan ceramah sambil menjelaskan isi Kitab Kuning,” ujarnya, saat berbincang dengan infobekasi, Kamis (8/1) malam.
Materi yang disampaikan tidak hanya tentang cara beribadah, tetapi juga fokus pada pemahaman ketauhidan. “Di kampung memang seperti itu, kita belajar bagaimana menjadi umat yang benar dan memahami dasar-dasar agama kita,” tambah Basri.
Salah satu bagian tak terpisahkan dari tradisi ini adalah makan bersama setelah ngaji. Haji Sait, yang sudah mengikuti pengajian sejak tahun 1990-an, mengenang suasana masa lalu dengan senyum hangat. “Dulu, setelah ngaji kita makan nasi di atas nampan bersama-sama. Suasana sangat akrab, semua saling berbagi cerita,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, bentuk makan bersama sedikit berubah. Sekarang makanan lebih sering disiapkan dalam besek yang bisa dibawa pulang, dinilai lebih praktis bagi mereka yang harus segera kembali ke rumah. Namun, bagi banyak jemaah lama, suasana makan bersama di atas nampan tetap menjadi kenangan yang tak terlupakan.
“Lebih Enak kalau makan bareng, suasananya lebih meriah dan erat,” ucap Haji Sait.
Bagi Ustadz Mumu, yang kini menjadi salah satu pemimpin pengajian, tradisi ini memiliki makna lebih dalam. “Ngaji Malam Jumat bukan hanya tentang belajar agama, tapi juga menyatukan umat. Guru-guru kita dulu merintis ini sebagai syiar dakwah agar generasi muda tidak jauh dari ajaran agama,” jelasnya.
Menurutnya, menjaga kelangsungan tradisi ini adalah tanggung jawab bersama. “Kita berharap tradisi ini tidak hilang. Malahan bisa semakin berkembang dan menarik generasi muda untuk ikut serta, agar keimanan kita tetap terjaga dan masyarakat tetap bersatu,” tambah Ustadz Mumu.
Di akhir malam, setelah doa dan salam disampaikan, para jemaah kembali pulang dengan hati yang lebih tenang. Baik yang membawa besek makanan maupun yang hanya membawa pesan dari ceramah, mereka sama-sama membawa bagian dari warisan yang telah menghubungkan generasi di Bekasi selama bertahun-tahun.
(Dede Rosyadi)








































